Karir Wanita dalam Islam
Karir Wanita dalam Islam
Author :
Niswatun Muallamah
0 Vote
382 View
Islam mengajarkan persamaan derajat umat manusia. Tidak ada faktor yang menjadi penyebab lebih tingginya derajat manusia yang satu atas lainnya, kecuali peringkat iman dan ketakwaannya. Manusia yang mencapai derajat muttaqin akan memperoleh posisi tinggi di sisi Allāh, tanpa melihat jenis kelaminnya pria atau wanita. Esensi ajaran kesetaraan ini sering menjadi bias ketika pemahaman ajaran Islam telah terkontaminasi dengan kerangka berpikir patriarkis sehingga muncul berbagai pandangan yang berbeda tentang status dan kedudukan wanita yang dinilai lebih rendah daripada pria.1
Salah satu hal yang dikomentari al-Qur‟ān ialah masalah penciptaan pria dan wanita. Al-Qur‟ān tidak berdiam diri dalam hal ini, dan tidak memberikan kesempatan kepada orang-orang yang berbicara kosong untuk seenaknya mengemukakan filsafat mereka tentang hukum-hukum mengenai pria dan wanita, lalu menuduh Islam meremehkan wanita berdasarkan teori-teori mereka sendiri. Islam telah meletakkan pandangannya mengenai wanita.
Dalam al-Qur‟ān tidak terdapat satu jejak pun tentang apa yang terdapat di dalam kitab-kitab suci lain: bahwa wanita diciptakan dari suatu bahan yang lebih rendah dari bahan untuk pria, bahwa status wanita adalah parasit dan rendah, atau bahwa Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk kiri Adam. Di samping itu, dalam Islam tidak ada satu pandangan pun yang meremehkan wanita berkenaan dengan watak dan struktur bawaannya.2
Al-Qur‟ān mengandung banyak kisah dan cerita tentang wanita baik peranannya ataukepahlawanannya atau sebagai istri dari Nabi dan Rasul yang mendampingi dan membantu tugas suami dengan penuh ketentuan.3 Dengan cara demikian al-Qur‟ān menolak konsep yang tersiar pada masa itu dan yang hingga kini masih tetap ada di kalangan tertentu dan bangsa tertentu di dunia. Dan dengan cara itulah al-Qur‟ān membersihkan wanita dari tuduhan sebagai sumber godaan dan dosa, sebagai makhluk separuh iblis.4
Selain itu, al-Qur‟ān al-Karīm membebankan tanggung jawab kepada pria dan wanita untuk membimbing dan mempebaiki masyarakat. Hal ini diungkapkan di dalam firman
Allāh:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚأُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيم
Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allāh dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allāh; Sesungguhnya Allāh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Taubah [09]: 71)5
Ketika seorang wanita meniti karier, di mana karier tersebut adalah sebuah pekerjaan yang ikut menyumbang kemaslahatan umat tentunya ia menjadi bagian dari bangunan Islam itu.6
Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari menjelaskan persoalan ini.
Artinya: Dari Aisyat r.a. dan Nabi saw, mengatakan: kalian (istri-istri Nabi) sungguh telah diizinkan keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan kalian. (HR. Bukhāry)7
Dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad disebutkan bahwa „Umar melarang para istri Nabi keluar rumah. Saat itu „Umar tetap dapat mengenali Saudah (istri Nabi) yang keluar saat isya‟. Namun kemudian dijelaskan, mereka boleh keluar karena ada keperluan penting. Hal ini menunjukkan keluar rumah bagi wanita bukan larangan yang bersifat mutlak, tetapi dibolehkan jika ada keperluan penting mendesak atau darurat.
Islam juga telah menetapkan bahwa urusan mencari nafkah adalah kewajiban pria, bukan kewajiban wanita. Tetapi jika ia berkehandak, maka diperbolehkan seorang wanita untuk bekerja, jika diijinkan oleh suaminya atau ayahnya jika ia belum menikah, sebab hal itu mubah baginya.
Benar bahwa pekerjaan wanita di rumah, mengurus anak- anak dan suami, adalah pekerjaan yang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Wanita adalah pemilik rumah dan tuan dari “kerajaan kecil ini”. Pekerjaan ini tidak dapat dinilai dengan apapun. Adapun dalam pekerjaan yang dapat memberikan
penghidupan, pekerjaan yang bernilai ekonomis, pekerjaan yang menjadi sumber rezeki, hendaknya wanita memilih pekerjaan yang mampu dia lakukan saja.8
Islam tetap membolehkan kaum wanita terjun langsung bekerja dalam kondisi terpaksa dan dalam batas yang telah digariskan syariat Islam. Seorang Muslimah harus mengerti bagaimana bergaul dengan pria, dan juga harus bisa membagi waktu untuk keperluan pendidikan anak-anaknya dan untuk melayani suaminya di rumah. Oleh karena itu, tatkala sedang bekerja di luar rumah, seorang Muslimah dilarang bercampur baur dengan kaum pria.9
Hanya saja, perlu diperhatikan, bahwa wanita bolehbekerja dengan cacatan:
- Tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu.
- Mendapatkan izin dari suami.
- Tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang merusak kepribadian Muslimah.
- Senantiasa menjaga aurat dan kesucian diri.10






