Apakah hal-hal yang berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Sa dapat dijumpai pada literatur-literatur Ahlusunnah?
Apakah hal-hal yang berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Sa dapat dijumpai pada literatur-literatur Ahlusunnah?
0 Vote
534 View
Apakah hal-hal yang berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Sa dapat dijumpai pada literatur-literatur Ahlusunnah? Tolong Anda sebutkan literatur-literatur itu dan sedapat mungkin dikirim ke email saya. Terima kasih.
Jawaban Global
Fakta sejarah ini tetap hidup dan terjaga dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Para pembesar Ahlusunnah seperti Ibnu Abi Syaibah, Baladzuri, Ibnu Qutaibah dan sebagainya mengakui fakta ini. Untuk mengetahui lebih jauh beberapa referensi terkait dengan penyerangan rumah Hadhrat Zahra Sa demikian juga beberapa referensi berkenaan dengan syahâdah Hadhrat Fatimah Zahra Sa kami persilahkan Anda untuk melihat jawaban detil dari site ini
Jawaban Detil
Peristiwa Seputar Wafatnya Fatimah RA
Satu penggal kisah yang terhimpun dalam buku-buku sejarah, adalah sebuah episode kesedihan nan memilukan.
Tampaknya, meskipun Sayyidina ‘Ali memutuskan untuk mengurung diri di rumah dan memilih untuk tidak ambil bagian dalam politik kekuasaan, namun pintu rumah tinggalnya dibakar ketika istri tercinta, Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah, sedang berada di dalam.
Pintu yang dibakar, pukulan keras gagang pedang, dorongan keras dan itu semua yang mematahkan rusuk dan tangan Fatimah dan mengakibatkan luka serius, hingga bayi dalam kandungannya pun keguguran.
Tampaknya penyerbuan itu terjadi secara mendadak dan tak terduga, tak seorang pun siap siaga menghadapinya. Putri Rasulullah itu menderita luka serius, hingga akhirnya pingsan. Sementara pintu rumah itu diliputi kepulan asap yang menyisakan trauma mendalam bagi anak-anaknya. Ketika Sayyidina ‘Ali merawat istrinya dan anak-anaknya yang hampir mati lemas, dia disergap dan diseret keluar dari rumahnya. Bahkan setelah peristiwa ini, warisan Fatimah dari ayahnya, Rasulullah Saw, pun ikut disita
Dua hari setelah Kewafatan nabi Muhammad Saww, maka Umar bin Khattab memimpin tentara ke rumah ALI AS. Mereka berteriak memanggil orang orang yang ada di dalam rumah untuk berbaiat kepada Abu Bakar dan mengancam untuk membakar rumah bila tidak ada yang mau keluar. karena tidak ada orang yang mau keluar rumah, tentara – tentara itu memaksa masuk. Fatimah AS yang sedang hamil sedang berdiri di belakang pintu. Umar bin Khattab mendorong fatimah AS ke belakang pintu yang terbakar. Umar telah mematahkan tulang rusuk dan pergelangan tangan bunda Fatimah AS, dan Bahkan bunda Fatimah AS juga kemudian keguguran atas putranya yang bernama Muhsin AS.Sekujur tubuh Fatimah terluka parah, mentalnya terguncang. Hal ini menyebabkan kondisi tubuhnya semakin lemah
Enam bulan kemudian
Ali dan Fatimah menangis sesaat. Kemudian, Imam ‘Ali as memegang kepala Sayyidah Fathimah dan menyandarkan ke dadanya. Beliau berkata. “Wasiatkanlah kepadaku apa yang ingin kau wasiatkan.”
Sayyidah Fathimah lalu berwasiat, “Semoga Tuhanmu membalas kebaikanmu, wahai anak pak cik Rasulullah! Wasiatku yang pertama adalah agar engkau menikahi Umamah, puteri saudaraku. Sebab dia sangat menyayangi anak-anakku dan kaum lelaki memang harus memiliki isteri. Wasiatku yang lain, siapapun di antara mereka yang menzalimiku dan merampas hakku tidak boleh menghadiri upacara pemakamanku. Sebab, mereka musuhku dan musuh Rasulullah saww. Jangan biarkan salah seorang di antara mereka, atau pengikut mereka, mensolati jenazahku. Wahai Abul Hasan! Kuburkan jenazahku di malam hari, saat semua mata tertidur…”
Setelah beberapa bulan kemudian Fatimah wafat pada tanggal 14 Jumadil Awal 11 H. Fatimah dimakamkan pada malam harinya. Hanya keluarga Bani Hasyim, dan para sahabat pilihan saja, seperti Salman, Abu Dzarr, Ammar bin Yasir dan Miqdal al-Aswad yang diperkenankan menyertai pemakamannya
Penyerangan rumah dan syahâdah Fatimah Zahra Sa
Terkait dengan hal ini kami akan mengutip beberapa matan dari kitab-kitab Ahlusunnah sehingga menjadi jelas bahwa masalah penyerangan kediaman Hadhrat Fatimah Zahra Sa merupakan sebuah peristiwa sejarah faktual dan niscaya serta bukan sebuah mitos dan legenda!! Meski pada masa para khalifah terjadi sensor besar-besaran terhadap penulisan keutamaan dan derajat (para maksum); akan tetapi kaidah menyatakan bahwa “hakikat (kebenaran) adalah penjaga sesuatu.” Hakikat sejarah ini tetap hidup dan terjaga dalam kitab-kitab sejarah dan hadis. Di sini kami akan mengutip beberapa referensi dengan memperhatikan urutan masa semenjak abad-abad pertama hingga masa kiwari.
- Ibnu Abi Syaibah dan kitab “Al-Musannif”
- Baladzuri dan kitab “Ansab al-Asyrâf”
- Ibnu Qutaibah dan kitab “Al-Imâmah wa al-Siyâsah”
- Thabari dan kitab “Târikh”
- Ibnu Abdurabih dan kitab “Al-‘Aqd al-Farid”
- Abu Ubaid dan kitab “Al-Amwâl”
- Thabarani dan kitab “Mu’jam al-Kabir”
- Ibnu Abdurrabih dan “Aqd al-Farid”
- Nazzham dan “Al-Wâfi bi al-Wafâyât”
- Mubarrad dan kitab “Kâmil”
- Mas’udi dan “Murûj al-Dzahab”
- Ibnu Abi Daram dalam Mizân al-I’tidâl
- Abdulfatah Abdulmaqshud dan kitab “Al-Imâm Ali”






